Ateisme Tanpa Sadar


Ada beberapa keresahanku sih yang pengen ku certain. Salah satunya itu perihal keimanan kepada Allah. Kalo boleh jujur yaa, banyak sebenernya itu yang meyakini rukun iman pertama itu tapi dalam kehidupan seolah kok kayak gak mencerminkan iman tersebut.

Ok, So Let's start our conversation. I hope from this text, we can evaluation ourself to be better person.

 

Ateisme pada awalnya dimulai dengan sikap tidak mengindahkan dan tidak peduli terhadap dasar-dasar keimanan. Perangai semacam ini yang ditandai dengan sikap berpikir lepas, ketika menemukan sedikit saja “bukti” atau peluang yang membantunya untuk ingkar, pengingkaran dan kekufurannya akan semakin bertambah. Meskipun ateisme tidak memiliki landasan ilmiah apapun, namun pengabaian, kelalaian dan penilaian yang keliru bisa melahirkan sikap ateisme

 

Berbagai peristiwa, yang semuanya berasal dari Tangan Kekuasaan Tuhan dan seluruhnya merupakan risalah ilahi, atau dengan istilah lain : berbagai hukum alam, di tangan kaum atheis, telah menjadi sarana untuk melenakan umat dan media untuk menanamkan benih ateisme. Padahal hukum alam hanyalah sebuah perangkat yang bekerja secara cermat, rapi dan akurat serta merupakan laboratorium yang menghasilkan berbagai produk.

 

"Darimana ia memiliki kemampuan untuk memproduksi dan darimana keteraturan itu didapat?"

"Mungkinkah alam nan indah yang menyihir jiwa bak untaian syair dan lirik musik ini merupakan hasil dari sebuah proses kebetulan belaka?"

"Apabila alam -seperti anggapan mereka- memiliki kemampuan untuk menghasilkan dan mencipta, apakah kita bisa menjelaskan bagaimana alam mendapatkan kemampuan semacam itu?"

"Apakah kita bisa berkata bahwa ia menciptakan dirinya sendiri?"

"Bisakah akal sehat menerima kerancuan berpikir semacam itu?"

 

Seandainya demikian, itu berarti bahwa pohon menciptakan pohon, gunung menciptakan gunung, dan langit menciptakan langit. Jujur, aku tidak percaya ada seorang pun manusia yang mendukung kerancuan berpikir semacam itu. 

Lalu, apabila yang dimaksud dengan makna “alam” adalah hukum-hukum fitri, unu juga merupakan tipuan lain. Pasalnya, menurut orang-orang terdahulu, hukum tersebut merupakan salah satu peristiwa, dan peristiwa tidak terjadi kecuali dengan adanya inti atau substansi. Analoginya seperti ini, jika gambaran seluruh bagian yang membentuk sebuah perangkat atau organ hidup tertentu tidak sempurna, maka gambaran pengertian hukum yang terkait dengan organ tersebut juga tak terwujud.

 

Contoh konkritnya lainnya nih seperti ini, ketika bangun pada pagi hari, ia memuji anarkisme. Pada waktu siang, ia memuliakan Marxisme Lenin. Pada sore hari, ia mengelu-elukan eksistensialisme. Malam harinya, bisa jadi ia mengumandangkan suara Hitler. Namun, ia tidak pernah melirik akar-akar rohaninya, pohon dan buah pohon umatnya, serta kekayaan spiritual dan peradaban umatnya. Semua itu pun disebabkan karena dia memiliki multi kiblat keilmuan, sehingga tidak ada satu pun keilmuan yang mampu menjadikan pegangan

 

Lalu, Kenapa sih ateisme masih eksis sampe sekarang terkhususnya di kalangan generasi muda ini?

 

1.      Penyimpangan Keilmuan

                Teori perkembangan dan evolusi yang dipelajari di sekolah-sekolah kita selama beberapa tahun dan seolah-olah merupakan hakikat ilmiah yang permanen, telah menjadi sekada teori fantasi dan salah satu cerita sejarah setelah munculnya beberapa penemuan ilmiah modern dan perkembangan ilmu genetika, sehingga ia tidak lagi memiliki bergantung pada kehampaan. Hal-hal semacam itulah yang senantiasa menjadi sebab munculnya sikap ateisme pada generasi kita yang masih bergantung pada kehampaan.

 

2.       Karena mereka (generasi muda) tidak mendapatkan pendidikan ilmiah dan spiritual yang cukup.

                Fitrahnya bagi para pemuda yakni tidak pernah kenyang serta keinginan mereka untuk bebas secara mutlak tanpa batas, kecenderungan tidak seimbang inilah yang membuat mereka dekat dengan ateisme.

 

3.    Kita tidak memiliki para guru dan pembimbing dengan perhatian dalam bidang pengajaran yang menggabungkan antara ilmu pengetahuan dan ajaran rohani serta antara akal dan qalbu.

 


Dari semua itu bisa disimpulin kalau ateisme dalam bentuk pemikiran adalah dampak dari kebodohan, tiadanya kemampuan analitis, serta kemiskinan spiritual dan kalbu.

Ketika kebodohan makin meningkat dan kemisikinan spiritual makin parah, makin mudahlah bagi syahwat untuk menguasai rohani. Sebagaimana Faust menyerahkan ruhnya kepada syaitan, para pemuda pun menyerahkan kalbu mereka kepada syaitan. Ya! Ketika rohani mati, kalbu papa dan akal linglungm hanya satu jalan, yaitu jalan ateisme. Namun, jika akidah, rasa tanggung jawab, serta kalbu dan rohani yang terdidik merupakan jaminan utama bagi kebangkitan para pemuda.


Sumber Bacaan : Buku Islam Rahmatan Lil 'Alamin - Muhammad Fethullah Gulen

Komentar

Postingan Populer