Diam Itu Emas (2)

 



Part 2

 

Lisan Bisa Menjadi Malapetaka

 

            Nabi menyarankan kita untuk berhati-hati dalam mempergunakan lisan. Sebelum mengucapkan sesuatu, kita diperintahkan untuk memprediksi efek dan ekses yang kira-kira muncul, agar tidak timbul penyesalan. Dari Abu Hurairah, Nabi mengingatkan,

 

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak dia teliti kebenarannya, bisa jadi ucapannya itu menyebabkan dia tergelincir di neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”[1]

 

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ia tidak memperhatikan ucapannya, itu artinya ia tidak merenungkan ucapannya dengan qalbunya, tidak memikirkan akibatnya, dan tidak mengira bahwa ucapannya dapat berdampak buruk.


            Dalam riwayat Abu Hurairah yang lain, demikian wanti-wanti dari Rasullah,

 

“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah namun dia tidak menaruh perhatian terhadapnya, ternyata Allah malah mengangkatnya beberapa derajat dengan sebab kalimat itu. Sesungguhnya seseorang mengatakan satu kalimat yang dibenci Allah, namun dia tidak menaruh perhatian terhadapnya, ternyata Allah malah menjerumuskannya ke Jahannam dengan sebab kalimat itu”[2]

 

            Hal inilah yang betul-betul dipahami hingga merasuk ke dalam setiap sudut hati para Sahabat, di antaranya Umar, “Barangsiapa banyak bicara, banyak pula kesalahannya. Barangsiapa banyak kesalahannya, banyak pula dosanya. Barangsiapa banyak dosanya, neraka lebih layal baginya.


            Abu Bakar juga merasakan yang sama, “Lisan inilah yang bisa membuatku berada di tempat-tempat yang membinasakan (yaitu neraka)”. Menyadari begitu rawannya lisan terperosok dalam dosa, Ibnu Mas’ud sampai bersumpah, “Demi Allah, yang tiada tuhan yang berhak disembah dengan benar selain Dia, tidak ada sesuatu pun yang lebih berhak dipenjara lama daripada lisan.

 

           Para ulama, yang mana disifati oleh Allah sebagai hamba yang paling takut kepada Allah, juga benar-benar sangat berhati-hati mempergunakan lisan. Mereka mengajarkan kepada umat bahwa diam itu adalah emas. Sampai-sampai ada ulama yang menulis kitab khusus dengan judul Kitab Ash-Shamt, Kitab Diam, yakni Ibnu Abi Ad-Dunya.

            Sebenarnya, petaka lisan tidak hanya diakhirat, bahkan dunia. Dari Ubaidah bis Ash-Shamit, Rasulullah bertutur, “Aku keluar untuk mengabari kalian waktu lailatul Qadr, kemudian ada dua orang yang saling mencela dan bertengkar, ternyata aku menjadi lupa kapan waktu tersebut. Semoga hal ini menjadi baik bagi kalian. Carilah pada malam ke-29, 27 dan 25.[3]


To be Continued on Part 3. . . 


Syukron, Nuun, Walqolami Wamaa Yasthurun





[1] Al-Bukhari no. 6477 ; Muslim no. 2988

[2] Al-Bukhari no. 6478

[3] Al-Bukhari no. 2023

Komentar

Postingan Populer