Diam Itu Emas (4)




Part 4

(The Last Part)

Kunci Kebaikan dan Keburukan

          Tak terasa beberapa part yang telah dimulai part 1, part 2, dan part 3 dari tema Diam Itu Emas, akhirnya sampai pada part terakhir. Semoga pembaca dan kita tetap semangat menjaga iman ditengah zaman fitnah yang semakin carut-marut ini dan senantiasa Allah menjaga kita semua dalam nuansa iman sampai bertemu kematian.

Sebagaimana pisau, lisan bisa digunakan untuk kebaikan dan bisa pula digunakan untuk keburukan. Tinggal kita mau pilih mana. Bayangkan, seorang da’i yang berkhuthbah di hadapan ratusan ribu jama’ah kemudian disorot oleh kamera dan disebarluaskan khuthbahnya ke seantero dunia, lantas penduduk dunia semuanya melaksanakan ajarannya, entah berapa banyak pahala yang didapatkannya, jika dia ikhlas. Tapi bayangkan pula, bagaimana seorang mafia atau penjahat kelas dunia menyerukan perang terhadap Islam dan kaum muslimin, dan seterusnya itu disebarluaskan ke seluruh penjuru bumi, lantas penduduk dunia semuanya melaksanakan seruannya, entah berapa banyak dosa yang dipikulnya.

          Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya di amtara manusia itu ada manusia yang menjadi pembuka kebaikan dan penutup keburukan, dan di antara manusia itu ada yang menjadi pembuka keburukan dan penutup keburukan. Maka beruntunglah orang yang dijadikan Allah sebagai pembuka kebaikan melalui tangannya dan celakalah orang yang dijadikan Allah sebagai pembuka keburukan melalui tangannya.”

Maka, mulai sekarang, kita berusaha sekuat tenaga untuk banyak diam, kecuali jika kita ingin mengucapkan kata-kata yang mengandung kebaikan dan dzikir kepada Allah. Rasulullah mengajarkan, “Semua perkataan anak Adam itu hanya berbuah dosa bukan berbuah pahala, kecuali yang berisi ajakan kepada kebaikan mencegah kemungkaran, dan dzikir kepada Allah.” [1]


Terimakasih telah setia mengikuti susunan kemelut kata yang disusun, semoga bisa mencerahkan dan nantikan aksara selanjutnya. Always stay tune on this blog . . . . 

Nuun, Walqolami Wamaa Yasthuruun

Wassalamu'alaikum warohmatullah wabarokatuh

 



[1] Sunan At Tirmidzi no.2412

Komentar

Postingan Populer