Diam Itu Emas (3)



Part 3

Bagai Geriba


          Geriba tentu masih asing bagi kita sebagai masyarakat Indonesia namun tidak bagi masyarakat Timur Tengah apalagi yang berada di daerah Arab. Geriba (Qirbah) merupakan tempat air dari kulit unta. Hal ini tentunya menurut suasana waktu dimana Negeri Timur Tengah masih belum adanya gedung-gedung pencakar langit seperti sekarang. Jika di kira-kira maka geriba seperti 1 kaleng, yang dibawa dengan mudah. Namun yang jadi poin ialah apa keterlibatan hubungan antara lisan dengan geriba?

            Qalbu dan lisan itu ibarat geriba dan air yang ada di dalamnya. Apa yang dikeluarkan oleh lisan adalah apa yang ada di dalam qalbunya. Bila qalbunya baik, maka lisan hanya akan mengucapkan kata-kata yang baik. Seperti bila isi geriba adalah air yang baik, maka geriba hanya mengeluarkan air yang baik tersebut. Begitu pula sebaliknya. Maka cara yang paling tepat dan paling awal untuk berhasil menjaga lisan adalah dengan menjaga lisan adalah dengan menjaga qalbu baik-baik.

           Resep kedua untuk mudah mengendalikan lisan adalah dengan banyak berdoa dengan Allah. Nabi pernah memberikan satu resep mujarab doa untuk mendapatkan taufiq dari Allah agar terhindar dari bejatnya lisan.


اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّ

“Ya allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan pendengaran, penglihatan, lisan, qalbu dan maniku.” [1]


            Resep ketiga, senantiasa sadar diri untuk mengoreksi niat dan fungsi ucapan yang akan dilontarkan. An-Nawawi menasihatkan, “Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali apabila perkataanya membawa kebaikan, dan kapan saja dia ragu apakah membawa kebaikan dalam perkataanya (atau malah keburukan), maka hendaklah dia tidak berbicara.”

           Resep keempat, selalu berlatih dan membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata baik. Asy-Syaikh Mahmud Al Khazandar dalam Hadzihi Akhlaquna menyarankan, “Perkataan yang baik dapat terjadi dengan pelatihan dan pembiasaan, demikian pula perkataan yang buruk. Lisan akan mengeluarkan kata-kata yang biasa dia ucapkan. Hanya dengan kesungguhan, lisan dapat terjaga. Sedikit saja kita lengah, maka lisan kita akan terpeleset."


To Be Coontinued on Part 4 (The Last Part) . . . .

Syukron, Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun



[1] Sunan At-Tirmidzi no. 3492

Komentar

Postingan Populer